TUGAS
KELOMPOK
STRATEGI PEMBELAJARAN
Tentang
“ KASUS STRATEGI
PEMBELAJARAN KOOPERATIF dan UPAYA PEMECAHANNYA”
Sebagai salah satu syarat dalam memenuhi tugas kelompok mata kuliah Belajar
dan Pembelajaran yang diampu oleh :
Prof. Dr. H. Karwono, M.Pd
dan Drs. Anak Agung Oka, M.Pd
Di Susun Oleh
Anggota Kelompok 6 :
|
Nama
|
NPM
|
|
Farida Akhmad
|
12320059
|
|
Leni Maslita
|
12320005
|
|
Priyan Septa Kurniawan
|
12320053
|
|
Hudaya Indra Bakti
|
12320028
|
|
Nur Maharani Pratiwi
|
12320038
|
|
Melatia Ulfa
|
12320032
|
|
|
|
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH METRO
2014
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulilah puji syukur kepada Allah SWT, yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya , sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas makalah kelompok yang berjudul “Kasus Strategi Pembelajaran Kooperatif
dan Upaya Penyelesaiannya”. Kiranya makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua, penulis sadar bahwa isi makalah ini perlu dilakukan
perbaikan dan penyempurnaan.
Makalah ini diajukan penulis untuk untuk
memenuhi tugas mata kuliah Strategi
Pembelajaran pada program studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Metro.
Penulis menyadari walaupun telah berusaha
dan mengalami banyak kesalahan dalam penyusunan makalah ini, maka penulis
mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun agar
sekiranya kedepan dapat diperbaiki dalam hal penyusunan.
Tidak lupa penulis mengucapkan
terimakasih kepada beberapa buku dan media massa yang telah menunjang dan
menjadikan referensi penulis dalam penyusunan makalah, akhir kata penulis
mengucapkan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Metro, April 2014
Kelompok 6
DAFTAR ISI
Halaman Judul
i
Kata Pengantar
ii
DAFTAR ISI
iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
1
1.2
Rumusan Masalah
2
1.3
Tujuan Penulisan
2
1.4
Sistematika Penulisan
3
BAB II PEMBAHASAN
1
2.1
Pengertian dan Karakteristik Strategi Pembelajaran Kooperatif
2
2.2
Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Kooperatif
3
2.3
Dasar Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran Kooperatif
2
2.4
Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kooperatif
3
2.5
Upaya Pemecahan Kasus Pembelajarannya
2
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan
5
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelaksanaan pembelajaran yang aktif ,inovatif, kreatif,
efektif dan menyenangkan baik yang akan dilaksanakan di dalam maupun di luar
kelas diperlukan persiapan yang matang oleh pendidik semua mata pelajaran.
Persiapan yang dimaksud adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan
skenario dalam pembelajaran. Dalam penyusunan RPP seorang pendidik perlu
memperhatikan pendekatan dan metode jenis apa yang akan dipilih dan dipakai
dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pemilihan suatu pendekatan dan metode
tentu harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan sifat materi yang akan
menjadi pembelajaran.Pada hakikatnya tidak pernah terjadi satu materi pelajaran
disajikan dengan menggunakan hanya satu metode. Pembelajaran dengan menggunakan
banyak metode akan menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih bermakna
(Rustaman,2003:107). Hal ini dilakukan agar tujuan pembelajaran yang telah
disusun dapat tercapai dengan baik.
Metode apa yang paling tepat untuk diterapkan dalam suatu
proses pembelajaran?.
Hal itu jelas harus dikuasai oleh guru. Lebih jelasnya adalah
bahwa dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) guru harus mampu menguasai berbagai
metode yang paling tepat sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan.
Penguasaan terhadap metode, alat / media dan teknik
pembelajaran ini harus diterapkan dan tercermin dalam program pembelajaran.
Jadi pada intinya proses pembelajaran harus bervariatif, metode yang digunakan
tidak monoton, sehingga potensi yang ada pada masing-masing anak dapat
dikembangkan secara optimal.
Berbagai tuntutan di atas akan dapat terlaksana dengan baik
apabila guru yang bersangkutan memiliki kemampuan professional, artinya baik
dalam motivasi untuk mengajar maupun kemampuan secara teknis instruksional,
guru tersebut benar-benar dapat diandalkan.
Salah satu bentuk profesionalitas seorang guru adalah jika
yang bersangkutan mampu menerapkan metode mengajar yang baik, salah satunya
adalah metode diskusi dalam pembelajaran.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka
menimbulkan pertanyaan yang menjadikan rumusan masalah makalah ini yaitu :
1.
Bagaimana Pengertian dan Karakteristik Strategi
Pembelajaran Kooperatif ?
2.
Apakah yang menjadi
Kekurangan dan Kelebihan Strategi Pembelajaran Kooperatif?
3.
Apa yang menjadi
Dasar Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran Kooperatif ?
4.
Bagaimanakah
Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kooperatif?
5.
Seperti Apakah
Upaya Pemecahan Kasus Pembelajaran dengan Strategi Kooperatif ?
1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah di atas dapat diketahui tujuan
pembuatan makalah ini adalah:
1. Mendefinisikan Pengertian dan
Karakteristik Strategi Pembelajaran Kooperatif.
2. Menjelaskan
yang menjadi Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Kooperatif.
3. Menjelaskan yang menjadi
Dasar Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran Kooperatif.
4. Menerangkan
Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kooperatif.
5. Menjelaskan
Upaya Pemecahan Kasus Pembelajaran yang menggunakan Strategi Kooperatif.
1.4 Sistematika Makalah
Adapun
susunan dari makalah Strategi Pembelajaran ini adalah;
Cover.
Kata Pengantar.
Daftar isi
BAB I Pendahuluan adapun bab ini berisi
tentang;
1.1 Latar Belakang.
1.2 Rumusan
Masalah.
1.3 Tujuan
Penulisan.
1.4 Sistematika Makalah.
BAB II Pembahasan, adapun bab ini
berisi tentang;
2.1
Pengertian dan Karakteristik Strategi Pembelajaran Kooperatif.
2.2
Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Kooperatif.
2.3
Dasar Pertimbangan Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif.
2.4
Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kooperatif.
2.5
Upaya Pemecahan Kasus Pembelajarannya.
BAB III Penutup, adapun bab ini berisi
tentang;
3.1 Simpulan.
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan
Karakteristik
2.1.1 Pengertian Strategi Pembelajaran Kooperatif
Yang dimaksud dengan strategi
pembelajaran kooperatif (SPK) adalah merupakan suatu model pembelajaran yang
mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok
mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan
jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda
serta memperhatikan kesetaraan jender.
Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam
menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam
rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nur (2000), semua model
pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan
struktur penghargaan.
Model pembelajaran kelompok adalah
rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan siswa dalam kelompok-kelompok
tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam SPK
yaitu :
Peserta adalah siswa yang melakukan proses pembelajaran
dalam setiap kelompok belajar. Pengelompokkan siswa bisa di tetapkan dalam
beberapa pendekatan, diantaranya :
v pengelompokkan yang didasarkan atas
minat dan bakat siswa
v pengelompokkan yang didasarkan atas
latar belakang kemampuan
v pengelompokkan yang didasarkan atas
campuran baik campuran ditinjau dari minat maupun ditinjau dari kemampuan.
Pendekatan apapun yang digunakan, tujuan pembelajaran
haruslah menjadi pertimbangan. Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang
menjadi kesepakatan semua pihak yang terlibat, baik siswa sebagai peserta didik
maupun siswa sebagai anggota kelompok. Misalnya, aturan tentang pembagian tugas
setiap kelompok, waktu dan tetap pelaksanakan dan lain sebagainya.
Upaya belajar adalah segala aktifitas siswa untuk
meningkatkan kemampuannya yang telah dimiliki maupun meningkatkan kemampuan
baru, baik kemampuan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan.
Aktivitas pembelajaran tersebut dilakukan dalam kegiatan kelompok, sehingga
antar pserta dapat saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman,
maupun gagasan-gagasan.
Aspek tujuan dimaksudkan untuk memberikan arah perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Melalui tujuan yang jelas, setiap anggota kelompok
dapat memahami sasaran setiap kegiatan belajar.
Salah satu strategi dari model pembelajaran kelompok adalah
startegi pembelajaran kooperatif (cooperative learning/SPK). SPK merupakan
strategi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan
dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan.
Slavin (1995) mengemukkan dua alasan, pertama
beberapa hasil penelitian membuktikan penggunakan pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan
hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekuarangan diri dan orang lain,
serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat
merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berfikir, memcahkan masalah, dan
mengintegrasikan pengetahuan. Dari dua alasan tersebut, maka pembelajaran
kooperatif merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memperbaiki sistem
pembelajaran yang selama ini memiliki kelemahan.
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran
dengan menggunakan sisitem pengelompokkan atau tim kecil, yaitu antara empat
sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akdemik, jenis
kelamin, ras atau suku berbeda (heterogen). Sistem penilaian dilakukan terhadap
kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh (reward), jika kelompok mampu
menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan. Dengan demikian, setiap anggota
kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah
yang selanjutnya akan memunculkan tanggung jawab individu terhadap kelompok dan
keterampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok. Setiap individu akan
saling membantu, mereka akan mempunyai motivasi untuk keberhasilan kelompok,
sehingga setiap individu akan memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan
kontribusi demi keberhasilan kelompok.
SPK mempunyai dua komponen yaitu komponen tugas
kooperatif (cooperatible task) dan komponen struktur insentif
kooperatif (cooperative insentive structure). Tugas kooperatif
berkaitan dengan hal yang menyebabkan anggota bekerja sama dalam menyeselaikan
tugas kelompok, sedangkan struktur insentif kooperatif merupakan sesuatu yang
membangkitkan motivasi individu untuk bekerja sama mencapai tujuan kelompok.
Struktur insentif dianggap sebagai keunikan dari pembelajaran kooperatif karena
melalui struktur insentif setiap anggota kelompok bekerja keras untuk belajar,
mendorong dan memotivasi anggota lain menguasai materi pelajaran, sehingga
mencapai tujuan kelompok.
Jadi hal yang menarik dari SPK adalah adanya harapan selain
memiliki dampak pembelajaran, yaitu berupa peningkatan prestasi belajar
pesetrta didik (student achievement) juga mempunyai dampak pengiring seperti
relasi sosial, penerimaan terhadap psesrta didik yang dianggap lemah, harga
diri, norma akademik, pengahargaan terhadap waktu, dan suka memberi pertolongan
kepada yang lain.
Startegi pembelajaran ini bisa digunakan manakala :
ü Guru menekankan pentingnya usaha
kolektif disamping usaha individual dalam belajar.
ü jika guru menghendaki seluruh siswa
(bukan hanya siswa yang pintar saja) untuk memperoleh keberhasilan dalam
belajar.
ü Jika guru ingin menanamkan bahawa
setiap siswa dapat belajar dari teman lainnya, dan belajar dan belajar dari
bantuan orang lain.
ü Jika guru menghendaki untuk
menegmbangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum.
ü Jika guru menghendaki untuk
mengembangkan motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka.
ü Jika guru mengehndaki berekembangnya
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi
pemecahan.
2.1.2 Karakteristik Strategi
Pembelajaran kooperatif
a. Karakteristik SPK
Pembelajaran
kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran lainnya. Perbedaan tersebut
dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses
kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan
akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur
kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang
menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif.
Slavin,
Abrani, dan Chambers (1996) berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif dapat
dijelaskan dari beberapa perspektif, yaitu :
Artinya
bahwa penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan kepada setiap
anggota kelompok akan saling membantu. Dengan demikian keberhasilan setiap
individu adalah keberhasilan kelompok. Hal semacam ini akan mendorong setiap
anggota kelompok untuk memperjuangkan keberhasilan kelompoknya.
Artinya
bahwa melalui belajar kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam
belajar karena mereka menginginkan setiap anggota kelompoknya memperoleh
kebrhasilan. Bekerja secara tim dengan mengevaluasi keberhasilan sendiri oleh
kelompok, merupakan iklim yang bagus dimana setiap anggota kelompok
menginginkan semuanya memperoleh keberhasilan.
Artinya
bahwa dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan
prestasi siswa untuk berfikir mengolah berbagai informasi. Elaborasi kognitif
artinya bahwa setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan menimba informasi
untuk menambah pengetahuan kognitifnya. Dengan demikian, karakteristik startegi
pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dibawah ini :
1) Pembelajaran secara tim
Pembelajaran
kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai
tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua
anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran di tentukkan
oleh keberhasilan tim.
Setiap
anggota bersifat hiterogen. Artinya kelompok terdiri atas anggota yang memiliki
kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal
ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberikan
pengalaman, saling memberi dan menerima, sehingga diharapkan setiap anggota
dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kelompok.
2) Didasarkan pada menejemen kooperatif
Sebagaimana pada umumnya, menejemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu
perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, fungsi kontrol. Demikian
juga dalam pemeblajaran kooperatif. Fungsi perencanaan menunjukkan bahwa
pembelajaraan kooperatif memerluhakn perencanaan yang matang agar proses
pemeblajaran berjalan secara efektif. Misalanya tujuan pembelajaran apa yang harus dicapai,
bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan dan
lain sebagainya.
Fungsi
pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai
dengan perencanaan, melalui langkah-langkah pemeblajaran yang sudah di
tentukkan termasuk ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati bersama. Fungsi
organisasi menunjukkan bahwa pembelajaraan kooperatif adalah pekerjaan bersama
antar setiap anggota kelompok oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung
jawab setiap anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa dalam
pembelajaran kooperatif perlu dintentukkan kriteria keberhasilan baik melalui tes
maupun nontes.
3) Kemauan untuk bekerja sama.
Keberhasilan
pembelajaran kooperatif ditentukkan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh
sebab itu prinsip kerja sama perlu di tekankan dalam proses pembelajaran
kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung
jawab masing-masin, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu.
Misalnaya yang pinta membantu yang kurang pintar.
4) Keterampilan bekerja sama
Kemampuan
untuk bekrja sama itu kemudian di praktikan melalui aktifitas dan kegiatan yang
tergambar dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu
didorong untuk mau dan sanggung berinteraksi dan berinteraksi dengan anggota
lain. Siswa perlu dibantu mengatasi berbagai hambatan dalam berinteraksi dan
berkomunikasi, sehingga setiap siswa dapat menyampaikkan ide, mengemukakan
pendapat dan memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.
b. Prinsip-Prinsip Pembelajaraan
Kooperatif
Terdapat empat prinsip dasar
pembelajaraan kooperatif, seperti di jelaskan di bawah ini :
1. Prinsip Ketergantungan Positif
(Positive Interdependence)
Dalam
pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaikan tugas sangat tergantung
pada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu perlu di
sadari oleh setiap anggota kelompok keberhasilan penyelesaian tugas kelompok
akan di tentukkan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua
anggota dalam kelompok akan saling ketergantungan.
Untuk
terciptanya kelompok kerja yang efektif setiap anggota kelompok masing-masing
perlu membagi tugas sesuai dengan tujuan kelompoknya. Tugas tersebut tentu
saja disesuaikan dengan kemampuan setiap anggota kelompok. Inilah hakikat
ketergantungan positif. Artinya tugas kelompok tidak mungkin diselesaikan
manakala ada anggota yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya. Dan semua ini
memerluhakan kerjasama yang baik dari masing-masing anggota kelompok. Anggota
kelompok yang mempunyai kemampuan lebih, diharapkan mau dan mampu membantu
temannya untuk menyelesaikan tugasnya.
2. Tanggung Jawab Perseorangan (
Individual accountability)
Prinsip
ini merupakan kosekuensi dari prinsip yang pertama. Oleh karena keberhasilan
kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus
memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya. Setiap anggota harus memberikan
yang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya. Untuk mencapai hal tersebut, guru
memberikan penilaian terhadap individu dan juga kelompok. Penilaian individu
bisa berbeda, akan tetapi penilaian kelompok harus sama.
3. Interaksi Tatap Muka ( face to face
interaction)
Pembelajaran
koopertif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok
untuk bertatap muka saling memebrikan informasi dan saling membelajarkan.
Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap
anggota kelompok untuk bekrja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan
kelebihan masing-masing dan mengisi kekurangan masing-masing. Kelompok belajar
kooperatif dibentuk secara hiterogen, yang berasal dari budaya, latar belakang
sosial dan kemampuan akademik yang berbeda. Perbedaan semacam ini akan menjadi
modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota kelompok.
4. Partisipasi dan Komunikasi
(Participation and Communication)
Pembelajaran
kooperatif membantu siswa untuk dapata mampu berpartisipasi aktif dan
berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan
di masyarakat kelak. Oleh sebab itu sebelum melakukan kooperatif, guru perlu
membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi, misalnya kemampuan
mendengarakan dan kemampuan berbicara, padahal keberhasilan kelompok
ditentukkan oleh partisipasi setiap anggotanya.
Untuk
dapat melakukan partisipasi dan komunikasi, siswa perlu dibekali dengan
kemampuan-kemampuan berkomunikasi. Misalnya cara menyatakan ketidaksetujuan
atau cara menyanggah pendapat orang lain dengan santun, tidak memojokkan, cara
menyampaikan gagasan, ide-ide yang dianggapnya baik dan berguna.
Keterampilan
berkomunikasi memang perlu waktu. Siswa tak mungkin dapat menguasainya dalam
waktu sekejap. Oleh sebab itu, guru perlu terus melatih dan melatih, sampai
akhirnya siswa memiliki kemampuan untuk menjadi komunikator yang baik.
2.3 Kelebihan dan Kekurangan
2.3.1 Keunggulan SPK
Keunggulan pembelajaran kooperatif
sebagai suatu startegi pembelajaran diantaranya
Ø Melalui SPK siswa tidak terlalu
menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan
berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari
siswa yang lain.
Ø SPK dapat mengembangkan kemampuan
meningkatkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan
membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
Ø SPK dapat membantu anak untuk respek
untuk orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima
segala perbedaannya.
Ø SPK dapat membantu memberdayakan
setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
Ø SPK merupakan suatu strategi yang
cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial,
termnasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif
dengan ayang lain, mengembangkan keterampilan me-menege waktu, dan sikap positif
terhadap sekolah.
Ø Melalui SPK dapat mengembangkan
kemampuan siswa untuk mneguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan
balik. Siswa dapat mempraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan
, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
Ø SPK dapat meningkatkan kemampuan
siwa dapat menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstark menjadi
nayat atau rill
Ø Interaksi selama kooperatif
berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan gagasan untuk berfikir.
Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.
2.3.2 Kelemahan SPK
v Untuk memahami dan mengerti
filosofis SPK memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan
secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filosofis cooperative
learning. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya mereka akan
terhambat oleh siswa yang memiliki kemampuan kurang. Akibatnya keadaan semacam
ini dapat menganggu iklim kerjasama dalam kelompok.
v Ciri utama dari SPK adalah bahawa
siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu jika tanpa peer teaching yang
efektif, maka dibandingkan dari pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi
cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan di pahami
tidak pernah dicapai oleh siswa.
v Penilaian yang diberikan dalam SPK
didasarkan pada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari,
bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap
individu.
v Keberhasilan SPK dalam upaya
menegmbangkan kesadaran berkelompok memerluhakan periode waktu yang cukup
panjang. Dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau
sekali-kali penerapan strategi ini.
v Walaupun kemampuan bekerja sama
merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak
aktifitas dalam kehidupan yang didasarkan kepada kemampuan secara individual.
Oleh karena itu idealnya melalui SPK selain siswa belajar bekerja sama, siswa
harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal
itu SPK memang bukan pekerjaan yang mudah.
2.4 Dasar Pertimbangan Pelaksanaan Pembelajaran
Kooperatif
Pelaksanaan
model pembelajaran kooperatif didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan
tertentu (Sanjaya, 2009: 243), yaitu sebagai berikut.
Ø Guru menekankan pentingnya usaha
kolektif di samping usaha individudual dalam belajar.
Ø Guru menghendaki seluruh siswa
berhasil dalam belajar.
Ø Guru ingin menunjukkan pada siswa
bahwa siswa dapat belajar dari temannya,
Ø Guru ingin mengembangkan kemampuan
komunikasi siswa.
Ø Guru menghendaki motivasi dan
partisipasi siswa dalam belajar meningkat
Ø Guru menghendaki berkembangnya
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi
pemecahan.
2.5 Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kooperatif.
Langkah
pelaksanaan strategi pembelajaraan kooperatif terdiri dari empat tahap yaitu:
1. Penjelasan Materi
Tahap
penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran
sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam thap ini adalah
pemahaman sisiwa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru
memberikan gambaran umum tentang materi pelajran yang harus dikuasai yang
selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (tim).
Pada tahap ini guru dapat menggunakan metode ceramah, curah pendapat, dan tanya
jawab, bahkan guru dapat menggunakan demonstrasi. Disamping itu, guru
juga dapat mempergunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian
lebih menarik siswa.
2. Belajar dalam Kelompok
Setelah
guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran,
selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang
telah dibentuk sebelumnya. Pengelompokkan dalam SPK bersifat heterogen artinya
kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan-perbedaan setiap anggotanya, baik
perbedaan gender, latar belakang agama, sosial-ekonomi, dan etnik serta
perbedaan kemampuan akademik. Dalam hak kemampuan akademis, kelompok
pembelajaran biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua
orang dengan berkemampuan akademis sedang dan satu lainnya dari kelompok akademis
yang berkemampuan akademis kurang (Lie, 2005).
Selanjutnya
lie menjelaskan beberapa alasan lebih disukainya pengelompokkan hiterogen,
yaitu, pertama kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mnegajar
(peer tutoring) dan saling mendukung. Kedua, kelompok ini meningkatkan relasi
dan interaksi antara agama, etnis, dan gender. Yang ketiga kelompok hiterogen
memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan
akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk setiap tiga orang. Melalui
pembelajaran dalam tim siswa didorong untuk melakukan tukar menukar (sharing)
informasi dan pendapat, mendiskusikan permasalahan secara bersama,
membandingkan jawaban mereka, dan mengoreksi hal-hal yang kurang tepat.
3. Penilaian
Penilaian
dalam SPK bisa dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik
secara individual maupun secara kelompok. Tes individual nantinya akan
memberikan informasi kemampuan setiap siswa, dan tes kelompok akan memberikan
informasi kemampuan setiap kelompok. Hasil akhir setiap siswa adalah
penggabungan keduanya dibagi dua. Nilai kelompok memiliki nilai sama dalam
kelompoknya. Hal ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersama dalam
kelompoknya yang merupakan hasil akhir kerja sama setiap anggota kelompok.
4. Pengakuan Tim
Pengakuan
tim (team reognition) adalah penetapan tim yang paling menonjol atau tim paling
berprestasi untuk kemudian di beri penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan
pemberian penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus
berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu
meningkatkan prestasi mereka.
2.6 Upaya Pemecahan Kasus Pembelajarannya
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP) PERTEMUAN II
Satuan Pendidikan :
SMP NEGERI 4 METRO
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas/Semester : VIII / Ganjil
Bab : Sistem Gerak pada Manusia
Materi Pokok : Persendian
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi :
- Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia
Kompetensi Dasar :
1.3 Mendeskripsikan sistem gerak pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan
Indikator :
1. Mengidentifikasi macam sendi dan fungsinya.
Alokasi waktu : 2x40 menit
A.
Tujuan Pembelajaran
:
Peserta didik dapat
:
- Menjelaskan
pengertian sendi.
- Mengelompokkan
macam sendi menjadi tiga kelompok berdasarkan sifatnya.
- Menjelaskan lima macam sendi gerak.
B.
Materi Pembelajaran
:
Persendian
C.
Strategi Pembelajaran :
Strategi : - Kooperatif
Model : - Joyfull Learning
Metode : - Diskusi Informasi
D.
Langkah-langkah
Kegiatan :
Pertemuan Kedua :
|
No.
|
Kegiatan Guru
|
Kegiatan Siswa
|
Waktu
|
|
a.
b.
C.
|
Kegiatan
Pendahuluan
Ø Guru mengucapkan
salam dan membimbing siswa berdoa
Ø Motivasi
1.
Memotivasi siswa
dengan menanyakan materi minggu lalu ?
2.
Memotivasi siswa
dengan guru memperlihatkan kepada siswa video
tentang sendi.
Ø
Prasarat Pengetahuan :
-
Apa yang siswa ketahui
tentang sendi.
Kegiatan Inti
- Guru menjelaskan
kepada siswa materi tentang sendi.
- Guru meminta siswa membentuk kelompok, masing-masing kelompok terdiri
dari 4 siswa, yang nantinya akan melakukan permainan.
-
Guru meminta masing-masing kelompok siswa
untuk mencocokkan gambar dan kata dengan benar dan cepat.
Kegiatan Penutup
- Guru bersama
peserta didik membuat rangkuman / kesimpulan.
- Guru memberikan
apresiasi kepada kelompok yang paling benar dan cepat dalam permaianan.
- Guru memberikan posttest secara tulisan mengenai materi yang
telah disampaikan.
- Guru membimbing
doa dan mengucap salam.
|
- Siswa menjawab
salam dan mulai berdoa
- Siswa mendengarkan motivasi atau apresepsi dari guru
- Siswa menjawab
sedikit pertanyaan dari guru.
- Siswa mendengarkan penjelasan dari guru.
-
Siswa berkumpul dengan kelompok yang
telah ditentukan guru untuk menerima penjelasan sistematika
permainan.
-
Masing-masing
kelompok siswa mencocokkan gambar dan kata dengan benar dan cepat.
-
Siswa membuat
kesimpulan praktikum.
- Kelompok yang menang menerima apresiasi dari guru.
-
Siswa mengerjakan
posttest.
-
Siswa berdoa dipimpin oleh guru dan
menjawab salam dari guru.
|
7 menit
20 menit
5 menit
15 menit
10 menit
5 menit
15 menit
3 menit
|
d. Sumber Belajar :
a. Buku siswa halaman 8 - 10.
b. LKS
e. Penilaian :
a. Teknik Penilaian :
1. Tes tulis
2. Tes unjuk kerja
b. Bentuk Instrumen :
1. Tes uraian
BAB III
PENUTUP
III. Kesimpulan
Kooperatif
adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan
mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Model pembelajaran
kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya
kelompok- kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat
kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan
anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta
memperhatikan kesetaraan jender.
Langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Penjelasan Materi
2. Belajar dalam Kelompok
3. Penilaian
4. Pengakuan Tim
Kelebihan:
a) Melatih pendengaran, ketelitian /
kecermatan.
b) Setiap siswa mendapat peran.
c) Melatih mengungkapkan kesalahan
orang lain dengan lisan.
Kekurangan:
a) Hanya digunakan untuk mata pelajaran
tertentu.
b) Hanya dilakukan dua orang (tidak
melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang
tersebut).
DAFTAR PUSTAKA
Lie,
Anita. 2005. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di
Ruang-Ruang Kelas. Jakarta : Grasindo.
Nur, M. 2000. Strategi-Strategi
Belajar. Surabaya : University
Press.
Nurul, Maghfiroh. 2012. Strategi Pembelajaran
Kooperatif. http://nurulmaghfirohq.blogspot.com/2012/09/strategi-pembelajaran-kooperatif.html.
Diakses
pada Selasa, 29 April 2014.
Rustaman, Nuryani Y.dkk.2003. Strategi Belajar Mengajar Biologi.Jakarta: JICA common
text book.
Sanjaya, Wina. (2006). Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media
Group.
Sanjaya,
Wina. 2009. Penelitian tindakan kelas. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar